Ditanam di Sekolah, Tak Disiram di Rumah: Jangan Tuntut Murid Tumbuh Sendirian

Seorang anak datang ke sekolah membawa rasa ingin tahu, mimpi, ketakutan, bahkan persoalan yang tidak selalu terlihat oleh guru.

Di sekolah, guru menanamkan pengetahuan, disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan karakter melalui pembelajaran, nasihat, keteladanan, tugas, evaluasi, dan perhatian.

Namun, ketika bel pulang berbunyi, proses pendidikan belum selesai. Anak kembali ke rumah dan berhadapan dengan lingkungan yang berbeda.

Ada murid yang ketika pulang ditanya, “Bagaimana sekolah hari ini?” Ada yang ditemani ketika kesulitan belajar dan didengarkan ketika bercerita. Tetapi ada pula yang pulang tanpa pernah ditanya bagaimana harinya.

Bukan berarti semua orang tua tidak peduli. Sebagian harus bekerja hingga malam, sebagian menganggap pendidikan sepenuhnya tanggung jawab sekolah, dan sebagian lainnya ingin mendampingi tetapi tidak tahu caranya. Apa pun kondisinya, kebutuhan anak tetap ada.

Ketika nilai turun, tugas tidak selesai, motivasi melemah, atau perilaku berubah, kita sering bertanya: mengapa anak tidak mau belajar? Barangkali pertanyaan yang perlu diajukan lebih dahulu adalah: apakah lingkungan tempat anak belajar sudah memberikan dukungan yang cukup untuk membuatnya tumbuh?

Sekolah Bukan Satu-Satunya Tempat Pendidikan

Anak tidak hidup sepanjang hari di sekolah. Guru memiliki waktu terbatas bersama murid. Setelah itu, anak kembali kepada keluarga dan lingkungan sosialnya. Nilai yang ditanamkan di sekolah akan berhadapan dengan kebiasaan di rumah.

Sekolah mengajarkan disiplin. Di rumah, apakah disiplin itu dibiasakan? Sekolah mengajarkan tanggung jawab. Apakah anak diberi kesempatan untuk bertanggung jawab? Sekolah mendorong anak membaca. Apakah rumah menyediakan waktu dan suasana yang mendukung? Sekolah mengajarkan keberanian berbicara. Apakah pendapat anak didengarkan?

Pertanyaan itu bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan mengingatkan bahwa pendidikan anak adalah pekerjaan bersama.

Menurut saya, salah satu kekeliruan dalam pendidikan adalah ketika sekolah dan keluarga berjalan seperti dua dunia terpisah. Sekolah merasa sudah mengajar. Orang tua merasa sudah menyekolahkan. Anak berada di tengah-tengah keduanya dan diharapkan berubah dengan sendirinya.

Padahal, menyekolahkan anak tidak sama dengan menyerahkan seluruh proses pendidikan kepada sekolah.

Ketika “Sudah Disekolahkan” Dianggap Sudah Cukup

Kalimat “Anak saya sudah saya sekolahkan” kadang dianggap sebagai tanda bahwa tanggung jawab pendidikan telah ditunaikan. Padahal, sekolah hanyalah salah satu bagian perjalanan pendidikan anak.

Anak tetap membutuhkan percakapan di rumah, perhatian ketika kesulitan, apresiasi ketika berhasil, dan pendampingan ketika gagal. Dukungan tidak harus berupa bantuan mengerjakan pekerjaan rumah. Kadang cukup dengan bertanya, “Kesulitan di bagian mana?” atau “Mau cerita tentang sekolah hari ini?”

Kalimat sederhana itu memberi pesan bahwa proses belajar anak diperhatikan. Perhatian juga tidak selalu membutuhkan biaya besar. Yang sering dibutuhkan adalah waktu, kepedulian, dan kemauan untuk hadir.

Tentu persoalan keluarga tidak sederhana. Tidak semua orang tua memiliki kondisi yang sama. Karena itu, pembahasan ini tidak seharusnya berakhir pada tudingan kepada orang tua, melainkan pada upaya membangun dukungan agar keluarga tetap terlibat sesuai kondisi masing-masing.

Murid Bukan Mesin yang Tinggal Diberi Target

Kita hidup dalam budaya yang mudah melihat hasil: nilai, ranking, kemampuan membaca, disiplin, dan prestasi. Hasil memang penting. Murid tetap perlu bertanggung jawab terhadap proses belajarnya.

Namun, sebelum menuntut hasil, kita perlu melihat proses yang mengantarkan anak menuju hasil tersebut.

Seorang murid yang tidak mengerjakan tugas perlu dibimbing untuk bertanggung jawab. Tetapi guru juga perlu mengetahui apa yang terjadi di balik perilaku itu: apakah ia tidak memahami materi, tidak memiliki waktu belajar, menghadapi persoalan keluarga, atau belum memiliki kebiasaan belajar?

Memahami bukan berarti membenarkan kesalahan anak. Memahami berarti mencari akar persoalan agar pendampingan tidak salah sasaran.

Guru memiliki posisi penting karena berinteraksi dengan murid secara rutin. Namun, guru juga memiliki keterbatasan. Guru tidak mungkin menggantikan peran orang tua, berada di rumah setiap malam, atau memastikan nilai yang diajarkan di sekolah selalu dipraktikkan setelah anak pulang.

Karena itu, menuntut sekolah menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan anak sama tidak tepatnya dengan menyerahkan seluruh pendidikan kepada keluarga.

Orang Tua Tidak Harus Menjadi Guru Kedua

Ada anggapan bahwa orang tua yang tidak mampu mengajarkan materi pelajaran berarti tidak dapat mendukung pendidikan anak. Pandangan itu perlu diluruskan.

Orang tua tidak harus menguasai seluruh pelajaran. Mereka cukup menjadi bagian dari perjalanan belajar anak.

Jika anak mendapat tugas matematika dan orang tua tidak memahami caranya, tidak perlu memaksakan diri menjadi guru matematika. Orang tua bisa berkata, “Coba kita cari tahu bersama,” atau, “Bagian mana yang belum kamu pahami? Besok coba tanyakan kepada gurumu.”

Sikap tersebut mengajarkan bahwa anak tetap bertanggung jawab atas belajarnya, tetapi tidak sendirian ketika menghadapi kesulitan.

Temuan penelitian mendukung pentingnya keterlibatan keluarga. Meta-analisis terhadap 37 penelitian dari jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah menengah menemukan hubungan positif dan moderat antara keterlibatan orang tua dan capaian akademik. Hubungan paling kuat ditemukan pada ekspektasi akademik orang tua, komunikasi mengenai kegiatan sekolah, dan dukungan terhadap kebiasaan membaca.

Artinya, keterlibatan orang tua tidak harus berupa duduk berjam-jam mengerjakan soal. Berbicara tentang sekolah, membangun harapan akademik yang sehat, dan mendukung kebiasaan membaca juga merupakan bentuk keterlibatan.

Dalam konteks Indonesia, PISA 2022 yang dilaporkan OECD menunjukkan bahwa 43% murid Indonesia berada di sekolah yang kepala sekolahnya menyatakan setidaknya separuh keluarga membicarakan perkembangan anak dengan guru atas inisiatif sendiri. Ketika komunikasi dilakukan atas inisiatif guru, angkanya mencapai 49%. Pada 2018, angkanya masing-masing 39% dan 40%.

OECD juga mencatat bahwa murid yang lebih sering berinteraksi dengan orang tua dan membicarakan kegiatan sekolah cenderung menunjukkan penggunaan strategi belajar yang lebih baik. Temuan ini merupakan hubungan statistik, bukan bukti bahwa komunikasi orang tua sendirilah yang menyebabkan hasil belajar lebih baik.

Studi UNICEF Indonesia dan SMERU Research Institute juga mengidentifikasi keterlibatan orang tua dan lingkungan sekolah yang positif sebagai faktor yang berkaitan dengan capaian belajar murid.

Dengan demikian, orang tua tidak harus menjadi guru kedua di rumah. Namun, mereka tetap perlu menjadi bagian dari perjalanan belajar anak.

Sekolah dan Rumah Jangan Berjalan Sendiri

Hubungan sekolah dan orang tua tidak boleh hanya aktif ketika terjadi masalah. Orang tua jangan hanya dipanggil ketika anak melakukan pelanggaran, dan guru jangan hanya menghubungi orang tua ketika nilai anak turun.

Komunikasi perlu dibangun ketika keadaan masih baik. Guru dapat memberi kabar, “Hari ini anak Bapak/Ibu aktif bertanya di kelas,” atau, “Anak Bapak/Ibu sudah menunjukkan kemajuan dalam kedisiplinan.”

Sebaliknya, orang tua perlu menyampaikan kepada guru ketika anak menghadapi kesulitan di rumah yang mungkin memengaruhi proses belajarnya.

Dengan komunikasi seperti ini, guru tidak bekerja berdasarkan asumsi dan orang tua tidak hanya menerima laporan akhir. Keduanya dapat memahami anak secara lebih utuh.

Mulai dari Kesepakatan Sederhana

Kita tidak membutuhkan program rumit untuk memperkuat hubungan sekolah dan keluarga. Sekolah dapat memulai dari kesepakatan dukungan belajar antara guru, orang tua, dan murid.

Kesepakatan itu dapat mencakup kebiasaan belajar, komunikasi, penggunaan gawai, tanggung jawab anak, dan cara merespons ketika anak mengalami kesulitan.

Orang tua menyediakan waktu untuk mengetahui aktivitas belajar anak. Murid tetap bertanggung jawab menyelesaikan tugasnya. Guru memberikan informasi ketika ada perubahan penting.

Sekolah tidak mengambil alih peran keluarga. Orang tua tidak mengambil alih peran guru. Murid juga tidak dibebaskan dari tanggung jawabnya. Ketiganya saling menguatkan.

Menurut saya, pendekatan ini lebih sehat daripada budaya saling menyalahkan. Ketika nilai anak turun, jangan buru-buru mengatakan guru tidak mampu mengajar. Ketika perilaku anak bermasalah, jangan langsung mengatakan orang tua tidak mendidik.

Pertanyaan yang lebih berguna adalah: Apa yang bisa dilakukan sekolah? Apa yang bisa dilakukan keluarga? Dan apa yang perlu dilakukan anak?

Pertanyaan tersebut membawa kita dari mencari kesalahan menuju mencari solusi.

Ditanam di Sekolah, Disiram di Rumah

Anak yang datang ke sekolah membawa potensi. Guru membantu menanam benihnya.

Namun, benih tidak tumbuh hanya karena pernah ditanam. Ia membutuhkan air, cahaya, tanah yang baik, dan lingkungan yang mendukung.

Begitu pula murid. Ia tidak cukup hanya mendapatkan pelajaran. Ia membutuhkan lingkungan yang konsisten antara apa yang diajarkan dan apa yang dialaminya.

Jika sekolah mengajarkan tanggung jawab, rumah perlu memberikan ruang untuk bertanggung jawab. Jika sekolah mengajarkan disiplin, rumah perlu membantu membangun kebiasaan. Jika sekolah mengajarkan keberanian, rumah perlu menjadi tempat yang aman untuk berbicara.

Jika anak gagal, sekolah dan keluarga perlu membantu memahami kegagalannya, bukan sekadar menghukumnya.

Pada akhirnya, anak harus belajar berdiri sendiri dan bertanggung jawab atas pilihan serta tindakannya. Tetapi kemandirian tidak lahir dari penelantaran. Kemandirian tumbuh dari pendampingan yang perlahan dikurangi ketika anak sudah mampu berdiri sendiri.

Karena itu, ketika seorang murid belum tumbuh seperti yang kita harapkan, jangan hanya melihat hasil akhirnya. Lihat pula tanah tempat ia tumbuh. Lihat siapa yang menanam. Lihat apakah ada yang menyiram.

Sebab anak tidak pernah memilih sendiri lingkungan tempat ia tumbuh.

Sekolah menanam. Rumah menyiram. Lingkungan memberi ruang.

Jika kita sungguh ingin melihat anak tumbuh, jangan hanya menuntut mereka menjadi pohon yang kuat.

Pastikan kita tidak lupa menyiramnya.

Writer: Ahmad Habibullaah
Editor: Ririn Tria Piani, M.Pd., Gr.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top